Disampaikan
:H. Masruri, S.Ag
Banyak
kaum muslimin yang malas mengamalkan shalat sunnat, dengan berbagai alasan; kurang mud, sibuk banyak pekerjaan, padahal jika ia mau
megamalkan ia akam memperoleh keutamaan-keutaaan yang banyak, dintaranya:
1. Shalat
tathawwu’ dapat menyempurnakan shalat wajib dan menutupi
kekurangannya, berdasar hadits Tamim ad-Dari, “Yang pertama kali dihisab dari
diri seorang hamba pada Hari Kiamat nanti adalah shalatnya. Bila shalatnya
sempurna, maka akan dituliskan pahalanya dengan sempurna. Apabila dia belum
menyempurnakannya, maka Allah berfirman kepada malaikat, ‘Lihatlah, apakah kalian mendapatkan hamba-Ku itu melakukan shalat
tathawwu’ untuk menyempurnakan shalat wajibnya, demikian juga dengan zakatnya?’
Kemudian baru amal perbuatan lain dihisab sesuai dengan ukuran itu”.[1]
2. Shalat
tathawwu’ dapat mengangkat derajat seseorang dan menghapus kesalahannya. Hal
ini berdasarkan hadits Tsauban, mantan budak Rasulullah; dari Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Hendaknya engkau banyak-banyak
bersujud (shalat). Sesungguhnya tidaklah engkau bersujud kepada Allah sekali
saja, melainkan Allah akan akan mengangkatmu satu derajat, dan Allah akan
menghapuskan darimu satu kesalahan”.[2]
3. Memperbanyak
shalat sunnah merupakan sebab terbesar masuknya seseorang ke dalam surga untuk
menemani Rasulullah, berdasarkan hadits Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami bahwa dia
bercerita, “Aku pernah menginap di rumah Rasulullah. Aku membawakan air wudhu
untuk beliau dan juga untuk buang air. Beliau berkata, ‘Mintalah sesuatu.’ Aku menjawab, ‘Aku ingin menjadi
orang yang menemanimu di surga.’ ‘Ataukah ada permintaan
lain?’ Tanya beliau. ‘Itu saja’ Jawabku. Beliau lalu bersabda, ‘Bantulah aku untuk menolongmu dengan engkau memperbanyak
sujud”.[3]
4. Shalat
tathawwu’ adalah amalan sunnah zhahir yang paling utama setelah jihad dan
menuntut ilmu, baik mempelajari atau mengajarkannya. Hal ini berdasarkan hadits
Tsauban bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Bersikap luruslah, dan kalian
sama sekali tidak akan bisa menghitung. Ketahuilah bahwa amalanmu yang terbaik
adalah shalat. Orang yang selalu menjaga wudhu hanyalah orang yang beriman”.[4]
5. Shalat
tathawwu’ di rumah dapat melahirkan keberkahan, berdasarkan hadits Jabir bin
Abdillah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah seorang di antaramu usai shalat di masjid,
hendaklah dia menyisakan waktu untuk shalat di rumahnya karena Allah menjadikan
kebaikan pada shalatnya di rumah tersebut”.[5] Juga
berdasar hadits Zaid bin Tsabit yang berderajat marfu’. Dalam hadits itu
tercantum, “Wahai manusia, shalatlah kalian di rumah kalian karena yang
paling utama bagi seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat wajib.” [6] Dalam
hadits Ibnu Umar, “Sisihkanlah shalatmu untuk dilakukan di
rumahmu, dan jangan menjadikan rumahmu sebagai kuburan.” [7] Imam
an-Nawawi menyatakan, “Shalat sunnah dianjurkan di rumah karena dengan demikian
akan lebih jauh dan lebih terhindar dari sikap riya’ serta lebih menjaga dari
hal-hal yang membatalkan ibadah; agar rumah pun dipenuhi berkah shalat,
dituruni rahmat dan para malaikat, serta dijauhi oleh setan.”
6. Shalat
tathawwu’ dapat menanamkan kecintaan sorang hamba terhadap Allah, berdasarkan
hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Allah berfirman,‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyerukan perang
dengannya. Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang
lebih aku sukai daripada amalan yang Kuwajibkan kepadanya. Seorang hamba akan
terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, hingga Aku
mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi Penjaga
pendengarannya yang dengannya ia mendengar, menjadi Penjaga penglihatannya yang
dengannya ia melihat, menjadi Penjaga tangannya yang dengannya ia memegang, dan
menjadi Penjaga kakinya yang dengannya ia berjalan. Bila ia meminta, pasti akan
Aku berikan. Bila ia meminta perlindungan, pasti Aku beri perlindungan”.[8] Secara
zhahir, kecintaan Allah kepada seorang hamba itu akan muncul bila seorang hamba
konsekuen melaksanakan kewajibannya dan selalu berusaha melakukan pendekatan
diri kepada-Nya melalui ibadah-ibadah sunnah setelah melaksanakan yang wajib,
baik itu berupa shalat, puasa, zakat, haji, atau ibadah lainnya.
7. Kesempurnaan
ibadah tathawwu’ dapat menambah rasa syukur seorang hamba kepada Allah
berdasarkan hadits Aisyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa
melakukan shalat malam hingga telapak kakinya membengkak. Aisyah bertanya,
“Wahai Rasulullah, kenapa Anda melakukan itu padahal Allah telah mengampuni
dosa-dosa Anda yang terdahulu maupun yang akan datang?” Beliau menjawab,“Tidakkah aku pantas menjadi hamba yang bersyukur?” [9]
[2] HR.
Muslim
[3] HR.
Muslim
[4] HR.
Ibnu Majah dan Ahmad
[5] HR.
Muslim
[6] HR.
Bukhari dan Muslim
[7] HR.
Bukhari dan Muslim
[8] HR.
Bukhari
[9] HR.
Bukhari dan Muslim
0 Komentar